Bebunyian Lokal



        Keragaman budaya musik tradisional Nusantara akan sulit ditunjukkan melalui bentuk alat musik belaka. Oleh karenanya, pameran kali ini melengkapi sajian dengan materi foto, audio, serta audio- visual terpilih yang diterima dari museum peserta pameran maupun yang diproduksi dan dikumpulkan oleh panitia pameran. Tujuan utama penyajian materi-materi pendukung tersebut adalah untuk menambahkan informasi yang tidak atau kurang mampu terberikan alat musik, misalnya kualitas bunyi, pemain dan cara memainkan alat musik, serta format sajian musiknya. Meskipun tidak setiap alat musik dilengkapi dengan materi pendukung, kehadirannya diharapkan dapat membantu pengunjung pameran memperoleh pengalaman dan pemahaman yang lebih utuh tentang kekayaan budaya musikal Nusantara.
Keseluruhan materi Pameran Alat Musik Tradisional Nusantara 2017 disajikan dengan alur sebagai berikut:
1. Riwayat Bunyi
    Mengawali alur pameran, sub-tema ini dirancang untuk menyajikan dimensi diakronis alat musik tradisional. Di dalamnya ditampilkan penyandingan sejumlah alat musik tradisional dengan foto relief candi yang menggambarkan alat musik sejenis. Diharapkan penyandingan tersebut sedikit memberi gambaran tentang kesinambungan alat musik tradisional. Dalam sub-tema ini juga dihadirkan beberapa alat bebunyian yang semula bukan alat musik, seperti dulang/talam, tahuri, gula gending, alat musik tenun, danjuga kothekan lesung.
2. Bebunyian Diri
    Sub-tema ini menyajikan berbagai alat musik yang dimainkan secara tunggal, baik yang termasuk dalam kategori erofon, kordofon, idiofon, maupun membranofon. Biasanya permainan alat musik secara tunggal ini dilakukan sebagai hiburan diri pemain musik. Dalam kelompok ini disajikan penekanan pada keistimewaan kledi/ kedire dari Dayak dan sasando Rote. Kledi/kedire merupakan satu-satunya alat musik tiup tradisional Nusantara yang menghadirkan lebih dari satu bunyi secara bersamaan. Di Nusantara, alat musik yang dalam khasanah musik disebut organ-mulut (mouth-organ) ini hanya dijumpai di kalangan orang Dayak di Kalimantan. Alat musik ini juga ditemukan di Filipina, Thailand, dan beberapa tempat lain di Asia. Alat musik lain yang juga ditonjolkan dalam sub-tema ini adalah sasando Rote. Alat musik ini merupakan satu-satunya kordofon petik tradisional Nusantara yang tubuhnya berupa tabung dan dibunyikan dalam posisi berdiri.
3. “Meningkah Bunyi
            Mulai dari sub-tema ini hingga sub- tema selanjutnya sajian diarahkan pada format sajian ganda. Pada klaster ini ditampilkan alat-alat musik erofon dan kordofon tradisional yang biasanya disajikan dalam format duet. Permainan pada format duet bercirikan kehadiran bunyi sebuah alat musik sebagai ‘melodi’ utama yang dibarengi dan dihiasi (ditingkahi) bebunyian alat musik pasangannya. Format duet biasanya melibatkan alat musik jenis erofon dan kordofon, seperti dijumpai pada duet kecapi suling di Sunda; atau berupa duet antara kategori suling dan vokal, seperti pada saluang jo dendang di Sumatera Barat. Highlight klaster ini diberikan pada teknik pernapasan berputar (circular breathing) yang memungkinkan dihasilkannya tiupan bunyi erofon tak terputus. Teknik tiup semacam ini dijumpai pada banyak permainan alat musik tiup tradisional Nusantara, misalnya saluang Minangkabau, slompret Ponorogo, dan sebagainya.
4. “Menjalin Bunyi
            Judul ‘menjalin bunyi’ dipilih untuk menandai kelompok alat musik tradisional yang biasanya disajikan dalam format berkelompok dan memainkan pola bebunyian jalin- menjalin (interlocking). Khususnya pada sub-tema ini kehadiran materi penunjang berupa audio-visual sangat diperlukan untuk menunjukkan keragaman pola tetabuhan interlocking maupun variasi kombinasi jenis alat musik pembentuk ensambel. Sebuah set gondang merupakan salah satu benda alat musik tradisional disoroti dalam klaster ini. Interlocking pada ensambel alat musik sejenis dicontohkan lewat penyajian ensambel rebana.
5. “Musyawarah Bunyi-bunyian
            Klaster ini mewadahi berbagai alat musik tradisional yang biasanya ditampilkan dalam format sajian ensambel besar. seperti berbagai jenis gamelan, orkes tiup bambu (Sulawesi Tengah dan Utara, Flores), serta orkes tahuri (Ambon dan Maluku). Format penyajian ensamble besar ini melibatkan sejumlah besar alat musik, baik yang berada dalam kategori alat musik sejenis (misalnya, pada orkes tiup bambu Sulawesi Tengah dan Utara, serta orkes tiup tahuri Ambon), maupun yang mencampirkan aneka- ragam jenis alat musik (seperti pada berbagai gamelan di Sunda, Jawa, dan Bali). Perlu dicatat: orkes musik tiup bambu dan tahuri merupakan adaptasi kreatif masyarakat setempat atas orkes tiup Eropa, sehingga dua jenis ensambel ini tidak menerapkan pola permainan interlocking.
6. “Masterpiece
            Pameran kali ini menampilkan masterpiece gamelan kuna Mega Mendung koleksi Museum Sonobudoyo untuk mengingatkan bahwa gamelan Jawa tidak sejak awal-mulanya sudah sekompleks seperti dijumpai pada gamelan saat ini. Keberadaan gamelan dengan jumlah dan jenis waditra yang lebih miskin daripada jumlah dan jenis waditra gamelan saat ini mengajak kita menanyakan-ulang pandangan yang semakin marak berlaku dewasa ini: semakin banyak/riuh/ramai berarti semakin tinggi nilai estetisnya, dan sebaliknya: kesederhanaan bunyi dipandang sebagai kemiskinan estetis. Gamelan Mega Mendung membuktikan cara pandang demikian adalah keliru.
7. “Refleksi Bunyi”
            Mengakhiri rangkaian perjalanan perjumpaan dengan alat musik dan bunyinya, para pengunjung sebenarnya bunyi dan sunyi adalah dua sisi keping mata-uang yang sama: tiada bunyi tanpa sunyi, tiada sunyi tanpa bunyi. Di antara kedua kutub itulah perjalanan budaya manusia berawal dan berakhir. Sudahkah Anda mengorganisir bunyi-bunyian dengan bijak? 

Komentar