Alat musik tradisional Nusantara
merupakan bukti kecerdasan lokal (local genius) anak bangsa menciptakan
dan menghadirkan bebunyian manusia– wi yang tertata, apa pun bunyinya,
bagaimana pun penataannya. Bunyi niscaya memerlukan adanya sumber bunyi. Dalam
hal ini variasi sumber bunyi dan cara membunyikan alat musik tradisional
Nusantara menunjukkan kekayaan yang sangat melimpah dan berharga. Perlu
diingat, sumber bunyi musik tidak terbatas pada alat musik saja. Mulut dan
organ tubuh manusia lainnya serta segala macam benda yang dapat menghasilkan
getaran berpeluang menjadi sumber bunyi musik. Pameran-pameran sebelumnya telah
menunjukkan hal itu dengan mengikuti sistem Hornbostel dan Curt Sachs.
Secara garis besar, kalsifikasi
alat ala Hornostel dan
Sachs mengelompokkan alat musik ke dalam erofon (alat musik bersumber bunyi
getaran udara), kordofon (alat musik bersumber bunyi getaran dawai),
membranofon (alat musik bersumber bunyi getaran selaput), dan idiofon (alat
musik bersumber bunyi getaran tubuh alat musik itu sendiri).
Erofon dapat dibedakan lebih lanjut
ke dalam: a) yang tanpa lidah-lidah (reed), seperti seruling, bansi dan
saluang (Minangkabau), sulim (Batak); dan b) yang berlidah-lidah
(reed) misalnya sarune (Batak Toba), sronen (Madura), slompret
(Ponorogo) dan kledi (Dayak). Pada umumnya aerofon tak berlidah-
lidah menghasilkan bunyi yang lembut, sementara bunyi aerofon berlidah-lidah
cenderung lebih nyaring. Jenis alat musik yang mampu menghasilkan bunyi tunggal
nan panjang dengan berbagai ketinggian ini biasanya dimainkan sebagai penghasil
melodi.
Kelompok alat musik kordofon
meliputi: a) kordofon petik berleher, seperti kacapping (Sulawesi
Selatan), sapek (Dayak), hasapi (Batak Toba), dan gambus; b)
kordofon petik tak berleher, misalnya siter dan celempung (Jawa),
sasando (Rote); serta c) kordofon gesek, misalnya rebab (Jawa), tarawangsa
(Sunda), tehyan (Betawi), rabab pasisia (Sumatera Barat).
Bahan baku dawai (serat kayu, kulit binatang, logam, nylon), cara membunyikan
(dipetik, digesek), alat petik serta penggesek, maupun ruang resonansi akan
menentukan sifat bunyi yang dihasilkan kordofon. Kordofon gesek mampu
menghasilkan bunyi panjang (tak terputus), namun seringkali bunyinya hanya
tunggal. Oleh karenanya, serupa erofon, kordofon gesek umumnya juga dimainkan
sebagai penghasil melodi. Sementara itu, getaran dawai kordofon petik lebih
cepat melemah dan berhenti sehingga bunyi yang dihasilkan tidak sepanjang bunyi
kordofon gesek. Namun demikian, kordofon petik mampu menghasilkan bunyi ganda
(dari dawai berbeda) pada waktu yang sama. Perbedaan kemampuan antara kedua
jenis alat musik kordofon tersebut berpeluang membentuk perbedaan peran musikal
masing-masing.
Idiofon merupakan jenis alat musik
yang paling bervariasi. Berdasarkan bahan baku sumber bunyinya, kelompok ini
dibedakan ke dalam dua kategori besar: a) metalofon, yang terbuat dari logam,
dan b) silofon, yang bahannya berupa kayu atau bambu. Sumber bunyi tersebut ada
yang berbentuk bilahan (misalnya: saron, kulintang), tabung
(misal– nya: angklung), mangkuk (misalnya: celuring), bu– lat
berpencu (misalnya: gong), dan bulat tanpa pencu (gong beri).
Cara membunyikan idiofon pun beragam: ada yang dibunyikan dengan alat pemukul (mallet),
dengan tangan, atau dibenturkan pada alat musik itu sendiri (misalnya cymbal
dan angklung). Masing-masing sumber bunyi idiofon menghasilkan satu bunyi
saja, sehingga untuk menghasilkan variasi tinggi-rendah bunyi biasanya idiofon
memiliki lebih dari satu bilah/tabung/mangkuk/bulatan. Dengan kondisi seperti
itu, peran musikal idiofon meliputi baik sebagai penghasil melodi maupun
penegak irama.
Membranofon, alat musik yang bunyinya
bersumber dari getaran selaput, dapat dibedakan berdasarkan jumlah selaputnya
ke dalam: a) berkepala tunggal, seperti pada tifa, gondang, rebana; dan
b) berkepala ganda, misalnya: kendang, marwas, gendang beleq, ganrang.
Getaran selaput cenderung cepat melemah, sehingga bunyinya pun cepat ‘habis.’
Tinggi-rendah bunyi membranofon diperoleh dari kencang-kendornya peregangan
selaput, yang biasanya terbuat dari kulit binatang. Dari segi bentuknya,
membranofon dapat dibedakan ke dalam kategori bentuk a) tabung (misalnya: tifa),
b) tong/barrel (contoh: kendang, bedug), c) gelas (misalnya: darbuka).
Pada umumnya jenis alat musik bersumber bunyi selaput ini dimainkan untuk
mengatur irama.
Meskipun penjelasan tentang alat
musik seperti di atas membantu pemahaman kita tentang musik, namun musik bukan
sekedar bunyi. Lebih dari itu, musik adalah “pengorganisasian bunyi.” Perlakuan
tertentu manusia terhadap bunyi lah yang menyebabkan bunyi-bunyian tertentu
disebut musik. John Blacking, seorang etnomusikolog, mengingatkan, “Bunyi bisa
saja merupakan obyek, tetapi manusia lah subyeknya; dan kunci untuk memahami
musik terletak dalam adanya keterkaitan antara subyek dan obyek, prinsip
aktivasi pengorganisasian.” Peran aktif manusia menghasilkan bunyi semacam
itulah yang hendak dikedepankan dalam pameran kali ini.
Selain itu, memamerkan alat musik
tradisional Nusantara berdasarkan kategori sumber bunyi dan daerah asalnya akan
terasa kurang informatif dan cenderung monoton. Bayangkan bila pameran ditata
mengikuti kategorisasi erofon, membranofon, kordofon, idiofon: di setiap sudut
pengunjung disuguhi alat-alat musik yang bentuknya serupa, meskipun barangkali
namanya berbeda-beda sesuai daerah asal instrumen tersebut. Keragaman
kecerdasan anak bangsa mengolah bunyi-bunyian kurang mampu tertampilkan
maksimal melalui penyajian bentuk alat musik belaka.
Senyatanya, meskipun bentuk alat
musik tradisional bisa jadi serupa, namun karakter bunyi, tinggi-rendah bunyi,
cara memainkan dan format penyajian musik di masing-masing daerah berbeda-
beda. Sebagai contoh, bentuk alat musik talempong dari Minangkabau
Sumatera Barat akan tampak serupa dengan reyong dari Bali,ataupun bonangJawa.
Ketiganya dapat dikategorikan sebagai metalofon berbentuk bulat berpencu.
Namun, pengertian talempong tidak sekedar merujuk pada, bahkan tidak
dapat dikenali dari, bentuk alat musiknya. Identitas masing-masing alat musik
tersebut lebih ditentukan oleh pengorganisasian bunyi-bunyiannya.
Talempong Minangkabau
Bonang Jawa
Jan Mrazek berpendapat “kita akan keliru
bila hendak memahami sebuah instrumen, dan keterkaitan antar instrumen,
berdasarkan pada ciri- ciri akustik dan teknis, seperti yang biasanya dilakukan
orang ketika mengelompokkan instrument. Baginya pemahaman instrumen seharusnya
dilakukan dengan mencermati nilai kultural yang terwujud dalam pola permainan
alat musik. Searah dengan pendapat tersebut, pameran kali ini tidak sekedar
memaparkan alat musik berdasarkan kelompok sumber bunyi dan daerah asalnya,
melainkan juga berusaha menampilkan variasi bunyi, sistem tinggi- rendah bunyi,
cara membunyikan, serta format penyajian alat musik tradisional Nusantara.
Memperhatikan format sajian musiknya,
tampak salah satu ciri menonjol permainan alat musik tradisional Nusantara
adalah permainan kelompok. Meskipun di Nusantara ada pula alat musik yang
dimainkan atau dapat dimainkan secara tunggal, namun hal itu lebih jarang
dijumpai daripada format permainan kelompok. Di bagian Nusantara mana pun
sajian musik tradisional cenderung melibatkan lebih dari satu orang memainkan
lebih dari satu buah alat musik. Berdasarkan jumlah pemain dan alat musik yang
dibunyikan, dapat dikelompokkan empat format penyajian musik tradisional
Nusantara: tunggal, duet, ensambel kecil, dan ensambel besar. Perbedaan format
penyajian berlaku baik dalam sebuah tradisi musikal tertentu atau pun di antara
tradisi musikal berlainan. Variasi format sajian dalam sebuah tradisi dapat
dicontohkan pada suling dalam masyarakat Sunda, Jawa Barat. Dalam tradisi
masyarakat Sunda, suling dapat dimainkan secara tunggal, secara duet
dalam kacapi suling, dan hadir pula dalam format sajian berkelompok degung.
Sunda (tungal)
Kecapi Suling (Duet)
Suling dalam Degung Sunda
Bila sajian ensambel
antar tradisi musik disandingkan, akan tampak adanya variasi jenis alat musik
yang dimainkan bersama dan perbedaan peran masing-masing instrumen dalam
ensambel tersebut. Karakter bunyi alat-alat musik yang dimainkan, cara
membunyikan, sistem tinggi-rendah bunyi, dan pola permainan alat musik; itu
semua merupakan faktor-faktor pembeda sajian musik tradisional Nusantara,
misalnya, antara permainan ganrang di Sulawesi Selatan dengan permainan
tifa di Maluku, atau gondang Batak-Toba.
Ganrang (Makassar)
Gondang (Batak)
Tifa (Papua)
Menimbang variasi
pengorganisasian bunyi seperti di atas, pameran ini menetapkan tema: “Tetabuhan
Nusaraya. Menyuarakan Keragaman Kolektivitas.” ‘Tetabuhan’ dipilih karena
memuat pengertian membunyikan alat musik, memiliki akar dalam bahasa Jawa Kuna:
tabeh-tabehan, dan memiliki padan kata di Maluku dan Ambon: totobuang. Sementara
itu, ‘keragaman kolektivitas’ digunakan sebagai sub- tema pameran untuk
menekankan ciri sajian berkelompok musik tradisional Nusantara, meskipun tetap
berbeda- beda.









Komentar