Ketika Manusia Hidup Tanpa "Alam" Lagi


       
       Melihat beragam kebudayaan yang ada di dunia ternyata tidaklah lepas dari ekosistem atau habitat dimana manusia tersebut tinggal dan menetap, contoh, kebudayaan masyarakat yang ada di pesisir pantai berbeda dengan kebudayaan yang ada di daerah pegunungan. Maka dari itu untuk melihat manusia dengan latar belakang habitatnya adalah salah satu hal penting yang tidak bisa lepas dari antropologi. Pengarahan pandangan ke ekologi sekarang ini, merupakan suatu usaha untuk mendapatkan kerangka analisa, dimana studi mengenai saling-pengaruh antara manusia dengan seluruh isi alamnya lainnya dapat dilakukan secara lebih mendalam.

Terdapat dua pendekatan dalam kajian hubungan saling-pengaruh antara manusia dengan alam, yaitu antropogeografi dan posibilisme.

Pendekatan Antropogeografi

    Pada pendekatan antropogeografi ini, para peneliti menganggap bahwa geografis memberikan pengaruh sebagai akibat dari adanya ras yang selalu dipakai di dalam ilmu biologi. Sebagai contoh, klimatologi afrika dengan eropa jelas jauh berbeda, kondisi geografis yang seperti ini menyebabkan tubuh manusia mengalami penyesuaian, terutama dari warna kulit. Lalu muncullah ras kulit hitam yang ada di afrika dan ras kulit putih yang ada di eropa.

Pendekatan Posibillisme


     Pada pendekatan posibilisme, para peneliti mengungkapkan bahwa lingkungan itu tidak menjadi penyebab, melainkan semata-mata sebagai pembatas atau penyeleksi, lalu timbullah apa yang disebut dengan “seleksi alam”, jika manusia tidak dapat bertahan hidup pada kondisi geografis tertentu maka mereka hanya ada dua pilihan, yang pertama menetap, yang kedua keluar dari batas geografis dimana mereka tinggal menuju geografis lainnya. Yang kedua-duanya memiliki resiko hidup atau mati.

Dua tipe ekosistem yang ada di Indonesia

     Dengan sebutan istilah “Indonesia Dalam” dan “Indonesia Luar”. Penyebutan “Indonesia Dalam” merujuk pada pulau Jawa bagian barat laut, tengah, bali selatan, dan lombok barat. Dan penyebutan “Indonesia Luar” merujuk pada jawa bagian barat daya dan daerah-daerah diluar “Indonesia Dalam”. Penyebutkan istilah ini semata-mata merujuk pada kepadatan penduduk yang ada berdasarkan kondisi geografis. Pulau jawa mengalami kepadatan penduduk yang amat besar, dikatakan dalam buku Antropologi bahwa tahun 1961 Indonesia berpenduduk sekitar 97 juta orang, namun 63 juta berdiam di Jawa.

   Awalnya “Indonesia Dalam” yang dimaksud adalah pulau Jawa, dan “Indonesia Luar” adalah pulau selain pulau jawa, namun secara ekologis dan kebudayaan melihat bahwa tidak semuanya pulau Jawa memiliki “pola jawa”, bahkan “pola jawa” juga terdapat di bagian "Indonesia Luar". Masyarakat “indonesia Dalam” memiliki kecenderungan dalam mengolah geografisnya menjadi ke sistem persawahan, sedangkan “Indonesia Luar” memilliki kecenderungan swidden agriculture (perladangan), shifting cultivation (bercocok tanam berpindah-pindah), dan atau slash-and-burn (pertanian tebang dan bakar).

   Melihat fenomena yang telah disampaikan diatas dan meninjau dari teori pendekatan yang telah disampaikan sebelumnya, saya memandang fenomena ini lebih cocok dengan pendekatan posibilisme, dimana kondisi geografis hanyalah sebagai pembatas. Seperti yang telah disebutkan diatas, dan saya dapat mencontohkan dengan 'IL' dan 'ID'.
Masyarakat 'IL' memiliki kebudayaan berladang sedangkan masyarakat 'ID' adalah persawahan. Orang 'IL' yang pindah ke 'ID' bagian tengah tidak dapat berladang, karena memang kondisi geografis yang tidak cocok untuk berladang, tapi bukan berarti mereka kehilangan identitas, meskipun di 'ID' mereka tetap orang 'IL', hanya saja kondisi alam sebagai pembatas lah yang tidak memungkinkan mereka untuk berladang. 

Siapa Orang Asli Indonesia?



     Sejak dahulu manusia sangat tergantung dari apapun yang disediakan alam, kemudian lambat laun, alam ternyata mampu mempengaruhi manusia dalam bertingkah laku, mulai dari bahasa, sistem pengetahuan, kesenian, kepercayaan, ekonomi, sosial, bahkan sampai teknologi, yang semuanya itu masuk dalam ketujuh unsur kebudayaan versi Koentjaraningrat.
Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ketujuh unsur kebudayaan ini berkembang sedemikian rupa sehingga mereka lupa akan alam dimana mereka tinggal? Unsur Teknologi adalah unsur yang sangat mempengaruhi dari pertanyaan tersebut.

Unsur Teknologi

      Manusia menggunakan teknologi dalam memudahkan mereka beraktifitas, contoh saat bercocok tanam mereka menggunakan cangkul untuk membajak sawah bukan dengan tangan. Seiring jaman, teknologi ini berkembang sesuai kebutuhan manusia. Teknologi pelayaran sebagai teknologi tranportasi pun diciptakan demi kebutuhan manusia berpindah tempat menuju lokasi geografis yang lebih baik. Dan kemudian muncul teknologi komunikasi berupa surat untuk saling mengirim pesan. Hingga teknologi pun berkembang menjadi yang sekarang kita kenal dengan pesawat dan handphone yang semakin membongkar batas-batas geografis.

      Semenjak munculnya teknologi tersebut, manusia mulai menggunakan teknologi dalam memenuhi unsur kebudayaan lainnya. Seperti pelayaran perdagangan, perluasan wilayah kekuasaan, sampai penyebaran kepercayaan.
Ini lah yang terjadi di indonesia pada abad-abad lalu, bahkan jauh sebelum Indonesia ada. Penduduk dari berbagai lingkungan geografis datang ke yang dulunya disebut Nusantara dengan berbagai keperluan. Tak jarang budaya yang mereka miliki di daerah asal turut dibawa dan diperkenalkan di daerah yang baru yang secara jelas kondisi geografisnya berbeda (dalam arti alam yang mempengaruhi budaya tersebut berbeda), maka terjadinya berbagai akulturasi budaya dengan budaya luar.

   Fenomena ini bisa dipandang dari dua pendekatan, baik antropogeografi maupun posibilisme. Dari segi antropogeografi, kondisi alam menjadi penyebab terjadi akulturasi budaya, dimana budaya asing yang mereka bawa tidak sesuai dengan budaya dan lingkungan setempat, maka terjadilah akulturasi budaya.
Dari segi posibilisme, geografi menjadi batas manusia dalam beraktifitas, maka dari itu, manusia perlu untuk memecah batas-batas tersebut, contoh, tanaman yang tidak tumbuh di china tidak dapat ditemukan di jawa, dan sebaliknya, hal ini yang membuat pertukaran hasil bumi, bahkan juga kebudayaan.

Kesimpulan

   Meskipun keduanya memiliki pandangan yang berbeda, penganut paham antropogeografi menyebut bahwa alam sebagai penyebab, dan penganut paham posibilisme menyebut bahwa alam semata-mata hanya sebagai pembatas atau penyeleksi, namun kedua-duanya menyadari bahwa faktor-faktor geografis sering kali memainkan peranan yang dinamis di dalam perkembangan kebudayaan manusia, dalam arti tidak dapat semata-mata dikembalikan langsung pada keadaan alam dari habitat geografis itu.

Komentar